Rancangan-Ku Bukanlah Rancanganmu… Jalanmu Bukanlah Jalan-Ku

By • Dec 19th, 2008 • Category: Liputan Distrik dan Wilayah

Oleh: Pasutri Steph & Kuni

Panggilan Menuntun yang Buta

Minggu, 24 Agustus 2008, kami berdua mengikuti pertemuan di kom­pleks Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang. Pertemuan ini diprakarsai oleh Pusat Koordinasi PLS (Pendi­dikan Luar Sekolah) Lumen Veritatis Keuskupan Agung Kupang. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah lembaga dari berbagai kabupaten di wilayah Propinsi NTT. Kami berdua mewakili Yayasan Bina Keluarga Maumere. Tu­juan pertemuan ialah untuk mengkoor­dinasikan layanan bagi mereka yangbuta huruf atau buta aksara; memban­tu warga masyarakat agar bisa mem­baca, menulis dan berhitung.

Ketika pembagian tugas layanan, lembaga yang kami wakili mendapat jatah 306 kelompok atau untuk 3.060 warga belajar di keuskupan Maumere. Setiap kelompok terdiri dari 10 warga belajar. Warga belajar ini ialah mereka yang berusia 15 sampai 44 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Apabila ada warga masyarakat yang berusia di atas 44 tahun, ingin belajar dalam kelompok ini dapat dipertimbangkan. Warga ini tidak pernah belajar di sekolah atau putus sekolah SD kelas 1, 2 atau 3. Layanan tidak terbatas pada umat katolik, tetapi juga un­tuk mere-ka yang berkeyakinan lain. Pada saat mendapat jatah 3.060 orang warga masyarakat yang perlu kami layani, kami sejenak tertegun, bersyu­kur dan juga tertantang. Tertegun dan bersyukur menyadari kepercayaan yang besar untuk melayani mereka yang terpinggirkan, sementara usia kami sudah termasuk lansia dengan berbagai keterbatasannya. Tertantang menyadari bahwa jumlah itu tidaklah sedikit, mengingat waktu layanan hanya untuk bulan September sam­pai Desember 2008 dengan kondisi geografis yang kurang bersahabat. Di samping itu kami berdua sadar bahwa layanan ini sesuatu yang baru bagi kami berdua. Kami tidak pernah bela­jar dan mempersiapkan diri untuk lay­anan bagi mereka yang buta aksara. Namun apapun yang kami alami ke­tika itu, kami pahami sebagai panggi-lan-Nya. Panggilan untuk menuntun yang buta. Sebab rancangan-Ku bu­kanlah rancanganmu, jalanmu bukan­lah jalan-Ku ( Yes 55 :8 )

Layanan dengan Hati

Menghadapi tugas layanan baru ini, kami berusaha memotivasi diri agar bisa melayani dengan ikhlas dan sepenuh hati. Secara teknis kami pe­lajari buku panduan yang telah disiap­kan, kami mengikuti pelatihan bagi calon tutor. Agar pelayanan dapat ber­jalan mantap dan kena sasaran, kami membentuk tim pengendali mutu, menunjuk tokoh umat sebagai koor­dinator wilayah. Koordinator wilayah atau korwil yang berjumlah 12 orang, sedangkan tutor yang melayani warga belajar berjumlah 188 orang.

Sebelum kegiatan dimulai tim pengendali mutu, melakukan pem­bekalan kepada para korwil dan tu­tor. Di lapangan para tutor membuat rencana bersama warga belajar. Men­dengar tentang apa kebutuhan mereka, merencanakan dimana, hari apa dan jam berapa mereka akan belajar. Juga membahas keterampilan produktif apa yang bisa mereka kembangkan ber­sama. Sambil mengembangkan usaha keterampilan bersama, mereka bela­jar membaca, menulis dan berhitung. Dengan cara ini suasana belajar lebih menarik, bernilai ekonomis dan bisa menciptakan suasana belajar yang me­nyenangkan.

Bersama tim pengendali mutu dan korwil kami berusaha mengunju­ngi warga belajar. Ketika kami me­nyaksikan bagaimana ”sibuta belajar untuk melihat” dengan bisa membaca menulis dan berhitung, kami sungguh­sungguh gembira dan bahagia. Kegembiraan yang sulit kami lukiskan dengan kata-kata. Spontan kami me­ngatakan ”Melihat semua itu, kami yang sakit-sakit menjadi sembuh. Mungkin karena kegembiraan kami”. Dalam pelaksanaannya, layanan ini tidak terlepas dari berbagai hambatan dan kesulitan. Namun dengan meli­batkan berbagai pihak, seperti Dinas Pendidikan Kabupaten, Keuskupan, Camat, Pastor Paroki, Kepala Cabang Dinas, Kepala Desa, tokoh masyara­kat, permasalahan bisa di selesaikan dengan arif dan bijak.

Persiapan Mengikuti Weekend

Dalam weekend para peserta dituntut untuk bisa menulis. Nampak­nya layanan bagi mereka yang buta aksara ini, dapat menjadi langkah awal untuk mereka bisa menjadi peserta WeekEnd. Walau harus diakui bahwa mereka ini perlu dibimbing berlanjut agar kemampuan membaca dan menu­lisnya bisa terus berkembang. Ketika kami berkunjung ke paroki Boganatar dan sempat bertemu Pater Anton, pas­tor paroki, beliau sangat mendukung kegiatan ini. Demikian juga Pastor Stef, pastor paroki Nebe. beliau men­dorong umatnya untuk ikut kegiatan ini, karena banyak umat di parokinya yang tidak mampu tanda tangan ketika harus menandatangani akte pernikah­an. Bapak Uskup Maumere, dalam rekoleksi para pastor, hari Selasa 9 September 2008, menegaskan bahwa kegiatan pemberantasan buta aksara ini merupakan salah satu kegiatan dan layanan pastoral. ■ (KT)

is
Email this author | All posts by

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.