Pikul Salib Sampai ke Golgota

By • Dec 16th, 2012 • Category: Liputan Nasional

 

Sidang Denas ME XXXIX ME Indonesia di Manado

Iringan Musik Bambu Menghantar Delegasi Peserta Menuju Katedral Menado

Iringan Musik Bambu Menghantar Delegasi Peserta Menuju Katedral Menado

 

 

Sebagaimana Yesus menyelesaikan tugas-Nya memikul salib sampai tuntas di Golgota, demikian juga perumpamaan tugas panitia Sidang Denas ME XXXIX ME Indonesia di Manado.

 

Awan bergantung di langit Manado, Rabu sore, 10 Oktober, ketika delegasi dari 16 Distrik dan 4 Wilayah Marriage Encounter seluruh Indonesia tiba di pelataran Keuskupan Agung Manado yang berseberangan dengan lokasi Gereja Katedral Manado.

Gereja Katedral

Gereja ini juga dikenal dengan nama Gereja Katolik Hati Tersuci Maria. dibangun tahun 1522, bersamaan dengan datangnya para pedagang dan misionaris dari Portugis, terletak di Jl. Sam Ratulangi. Tahun 2010 lalu katedral antik ini baru selesai direnovasi, memakan waktu 4 tahun. Saat ini, Gereja Katolik Hati Tersuci Maria adalah gereja termegah di kawasan Indonesia Timur. Bangunan baru mengadopsi arsitektur gereja-gereja di Italia.

Tuan rumah menyambut delegasi di gerbang Katedral Manado Pasutri

Tuan rumah menyambut delegasi di gerbang Katedral Manado Pasutri

Musik Bambu

Delegasi disambut dengan musik bambu begitu turun dari bus yang membawa mereka dari Hotel Arya Duta, tempat mereka menginap selama Sidang Denas.

Alat musik bambu di Minahasa sudah dikenal sejak dahulu kala.  Ketika itu alat musiknya  masih berbentuk tiga ruas bambu dengan panjang yang berbeda sekitar 8 cm yang di ikat menjadi satu. Alat musik ini dibuat dari bulu tui, sejenis bambu berdiameter kecil, hanya 2-3 cm.  Ia menghasilkan 3 jenis nada yang gunanya untuk memanggil burung Manguni di malam hari yang di sebut sori.

Suling ini menghasilkan 5 macam nada dan menjadi salah satu alat musik pendukung Musik Maoling yang terdiri dari kolintang gong, tambur dan gong besar.  Pada sekitar tahun 1789, suling bambu juga mulai banyak dimainkan di gereja.

Sampai tahun 1880, orkes musik bambu hanya berupa musik suling saja.  Setelah  tahun 1880-an barulah masyarakat mengenal alat musik bambu yang berfungsi sebagai bass dan tuba (piston).  Sejak itulah dikenal nama orkes musik Bambu Melulu, yang terdiri dari sederetan peniup suling, tambur besar kecil, korno (hoorn), piston dari bambu, bombardon (bas) dari bambu, pontuang, dan gong.

Pada tahun 1932, Kek Beng-seorang pengrajin kaleng (Tukang blek)  dari Amurang, berhasil membuat tiruan alat musik Eropa, yakni tuba dan  bombardon (bas) dari bahan seng aluminium. Sejak itulah Orkes Suling Bambu dengan tuba (piston) dan bass dari bahan bambu berubah menjadi musik bambu seng, dimana hanya suling dan korno saja yang terbuat dari bambu.  Dengan alat-alat musik pendukung yang makin lengkap itulah, akhirnya Musik Bambu berkembang menjadi salah satu alat musik  tradisional bergengsi.  Alat musik ini bahkan menjadi pengiring lagu untuk menghormati tamu agung, pesta perkawinan, upacara adat dan upacara lainnya.

Iringan Musik Bambu menghantar delegasi peserta sidang Denas menuju Katedral Manado

Iringan Musik Bambu menghantar delegasi peserta sidang Denas menuju Katedral Manado

Karena alat musik dari seng aluminium cepat berlombang terkena air liur manusia yang mengandung garam, maka di tahun 1970-an bahan baku dari peralatan musik bambu seperti Klarinet, Saxophon, Tuba,Oferton, dan bass di ganti dengan bahan kuningan.  Alat tiup bas dan Tuba mengalami perubahan menjadi ‘Tuba Celo’ dan “Tuba Benyo.  Sejak itulah dikenal sebutan  Musik Bambu Seng Klarinet (MBSK). Namun karena bahan kuningan juga cepat menjadi buram terkena keringat manusia, maka sejak tahun 1990-an mulai dicari bahan logam lain  supaya alat musik tiup nampak selalu bercahaya tanpa selalu harus digosok dan di bersihkan.  Akhirnya dipilih besi putih (vernikel, stainless steel), yaitu logam berwarna perak berkilau.

Misa Pembukaan

Dengan diiringi musik bambu delegasi diantar memasuki Gereja Katedral Manado untuk memulai Misa Pembukaan Sidang Denas ME XXXIX. Misa yang dibawakan oleh tiga Pastor konselebran yaitu Pastor Christian Santie MSC., Pastor Feighty Boseke Pr., dan  Pastor Budi Hermanto Pr., diiringi dengan perpaduan suara indah dari Paduan Suara ME Paroki St. Antonius Padua Tara-Tara dan bunyi-bunyian dari Musik Bambu yang terdengar megah.

Konsekrasi dalam Misa Pembukaan Sidang Denas ME Indonesia XXXIX diiringi tarian indah dan khusuk

Konsekrasi dalam Misa Pembukaan Sidang Denas ME Indonesia XXXIX diiringi tarian indah dan khusuk

Dukungan dari seluruh komunitas ME Paroki nampak dari petugas baik untuk lektor, pemazmur, doa umat persembahan dan tarian yang semuanya  dari pasutri koordinator ME Paroki dan aktifisnya. Menarik disimak saat Doa Syukur Agung khususnya ketika pastor konselebran melakukan konsekrasi nampak 8 wanita menari gemulai didepan altar dengan gerakan penyembahan juga diiringi oleh musik bambu. Misa terasa lebih kusyuk dan sakral.

Sambutan

Sesudah komuni memberikan sambutan berturut-turut Ketua Panitia, Pasutri Meike Eddi dan Pastor Christian Santie MSC., Kordis VIII Manado, Pasutri Tetty Josh dan Pastor Feighty Boseke Pr., serta Kordinator Nasional, Pasutri Endang Agung dan Romo Budi Hermanto Pr., sekaligus penyalaan Lentera Sidang Denas ME Indonesia XXXIX .

 

Penyalaan lentera Sidang Denas ME Indonesia XXXIX oleh Kornas Pasutri Endang-Agung dan Pastor Budi Hermanto, Pr.,

Penyalaan lentera Sidang Denas ME Indonesia XXXIX oleh Kornas Pasutri Endang-Agung dan Pastor Budi Hermanto, Pr.,

Ketua Panitia

Dengan terlaksananya Sidang Denas XXXIX ini, komunitas ME Manado juga berbahagia merayakan Lustrum ke-6. Patut dikenang sebagai tonggak sejarah perjalanan ME distrik VIII Manado. Beberapa peristiwa penting diantaranya WeekEnd pertama di Bumi Nyiur Melambai pada September 1982. Empat bulan kemudian Desember 1982 Manado dipercaya menjadi Wilayah di bawah bimbingan Distrik II Surabaya. Pada Oktober 1984 dilaksanakan Deeper WeekEnd pertama. Setelahnya dalam waktu 4 tahun kemudian yaitu pada Maret 1985 dapat menyelenggarakan WeekEnd dengan tim sendiri. Selanjutnya pada Juli 1986 Manado diangkat menjadi Distrik VIII.

Peristiwa 30 tahun Marriage Encounter di Keuskupan Manado tentu tidak dapat dilewatkan begitu saja. Karena perjalanan panjang ini membawa begitu banyak kenangan indah, manis-pahit, tantangan dan rintangan, suka dan duka yang dialami bersama. Momen ini menjadi kesempatan bagi kita untuk berefleksi dan bertanya kepada diri kita sendiri “apa yang telah, sedang dan akan kita buat, demi perkembangan Marriage Encounter di Bumi Nyiur Melambai ini?”

Sidang Denas XXXIX ini dan Sidang Denas XXIX pada 23-27 Oktober 2002, merupakan dua peristiwa besar dan penting, kiranya peristiwa besar ini menjadi momentum bangkitnya karya dan karsa serta memberi angin segar bagi perkembangan Distrik VIII Manado.

Suasana Misa Pembukaan Sidang Denas ME Indonesia XXXIX di Gereja Katolik Hati Tersuci Maria, Katedral Manado

Suasana Misa Pembukaan Sidang Denas ME Indonesia XXXIX di Gereja Katolik Hati Tersuci Maria, Katedral Manado

Pastor Christian Santie MSC 

Ketika kurang lebih setahun yang lalu diputuskan bahwa distrik VII Manado akan menjadi tuan rumah Sidang Denas ke-39, maka panitia langsung dibentuk. Semua penuh antusias dan optimisme bahwa segalanya akan berjalan lancar. Namun kurang lebih setengah tahun terakhir kami mendapat kesulitan ketika mencari hotel yang cocok untuk bisa menampung semua anggota delegasi. Saat sidang Denas 10 tahun lalu jumlah distrik dan wilayah masih sedikit sehingga bisa ditampung di Tomohon. Namun saat ini jumlah delegasi sudah banyak kami harus keliling mencari tempat yang cocok. Kami meninjau delapan hotel.  Akhirnya dinilai Arya Duta Hotel lebih layak karena terletak di pusat kota dan ruang sidangnya luas. Ternyata doa-doa semua pasutri dan terlebih Novena yang terakhir itu suatu kekuatan yang luar biasa. Sempat memang putus asa karena kerja sama antar panitia dan komunitas tidak sejalan, komunitas ternyata punya cara sendiri. Saat itu ketua panitia sudah putus asa dan berniat menyerahkan semuanya saja. Namun saya sampaikan untuk sabar, mari kita pikul salib dari Gethsemane sampe ke Golgota. Mari kita bangkit bersama, kalau kita hanya di tengah jalan, kita tidak akan bangkit. Syukur sesudah kita buat rapat dan sharing bersama antar semua panitia dan komunitas, kami bisa dikuatkan untuk kembali lagi sehingga bisa jadi sampai sekarang. Memang kesulitan yang luar biasa karena kami harus cari dana Rp. 300 juta, dan sampai sebulan terakhir belum sampai 200 juta. Tetapi atas peneguhan dari Kornas bahwa mereka akan juga membantu melalui partisipasi dari kordis-kordis yang lain maka itu bisa terjadi sampai sekarang ini.

Harapan ke depan untuk ME Manado bahwa melalui event ini kami akan turun ke Paroki-paroki untuk menggerakkan dan membangkitkan kelompok dialog. Untuk Distrik Purwokerto yang menjadi sidang Denas tahun depan, marilah kita percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan anak-anakNya. Dari pengalaman dua kali sidang Denas di Manado kami mendapat keyakinan bahwa semua akan dicukupkan pada waktunya. Dalam perjalan ini kita memang ditantang untuk memikul salib, untuk tidak hanya sekedar mencari dana. Tetapi dengan kekuatan doa dan bagaimana menggalang kerja sama dalam komunitas sehingga tercapai kerja sama yang baik, maka yakinlah semua akan terselenggara dengan baik.

Kami sebagai tuan rumah sungguh sangat dikuatkan dengan kehadiran komunitas ME Indonesia, kami juga gembira dan bahagia atas pelaksanaan Denas ini. Kami ucapkan terima kasih kepada Kornas dan seluruh delegasi distrik dan wilayah dari seluruh penjuru  tanah air. Bangkit Jaya ME Indonesia

Pasutri Meike-Eddi

Sejak ME Manado ditunjuk sebagai tuan rumah saat sidang di Semarang, kami langsung action dan menyatakan kesediaan kami untuk bekerja. Sejak Pebruari 2012 kami sudah melakukan langkah-langkah persiapan dan saat pertemuan dalam kunjungan Kornas, kami juga telah menyatakan komitmen kami untuk menyelenggarakan sidang Denas di Manado dengan baik. Memang ada sedikit hambatan dalam komunikasi karena domisili anggota panitia yang berjauhan. Kami mencoba untuk menyesuaikan dengan ritme kerja Kornas, namun nampaknya kami perlu belajar banyak lagi.

Beberapa program sudah kami buat antara lain:

  • Misa Perutusan
  • Kunjungan setiap minggu ke-2 paroki dalam kota dan 2 paroki di pinggiran Manado untuk sosialisasi dan sekaligus mohon dukungan dana
  • Malam dana yang kami namakan Santap Kasih
  • Kunjungan ke Makam pasutri dan romo team ME yang telah berpulang
  • Sosialisasi Sidang Denas ini melalui media radio

Satu bulan terakhir selama 7 kali dalam sehari, Radio Montini menginformasikan mengenai akan adanya pelaksanaan Sidang Denas ini.

Kami juga mendapat dukungan dari bapa Uskup Manado Mgr. Joseph Suwatan MSC. Beliau dalam beberapa kali pertemuan senantiasa memonitor perkembangan program dan dana. Pastor Chris Santie dalam kesibukannya sebagai sekretaris uskup dan banyak jabatan lain juga telah menyisihkan banyak waktu dan tenaga untuk persiapan sidang denas ini.

Dalam pencarian dana kami juga door to door dengan penjualan kue dan makanan dan kupon berhadiah. Dalam pengedaran kupon berhadiah kami menemukan kendala di lapangan karena ternyata beberapa kategorial juga sedang menjalankan program pengumpulan dana. Kami memuji Kornas dengan ide marketingnya yang luar biasa sehingga saat hari-H dapat mengedarkan kupon sejumlah yang kami jual dalam beberapa bulan.

Dalam keterbatasan yang ada panitia telah bekerja dengan tulus namun kami mengakui masih banyak kekurangan dalam kerja sama. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik walaupun memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Ada hal-hal kecil yang membatasi seperti kekecewaan dan tersinggung, namun kami mengambil sikap positif dengan menganggap inilah dinamika komunitas. Kami tidak mengabaikan perasaan negatif yang muncul dan kami rencana untuk mengadakan pertemuan rekonsiliasi sesudah seluruh delegasi kembali ke kota masing-masing.

Harapan kami dengan terselenggaranya sidang denas di Manado ini, bisa membangkitkan kembali gairah komunitas menjadi komunitas yang utuh.

Kordis Manado : Pasutri Tetty Josh dan Pastor Feighty Boseke Pr.,

Kami merasa bahagia dan menaikkan puji syukur karena Distrik VIII Manado telah Tuhan perkenankan hadir, tumbuh dan berkembang hingga mencapai usianya yang ke-30 tahun saat ini. Kami juga bergembira, karena dipercayakan untuk kedua kalinya menjadi tuan rumah pelaksanaan Sidang Dewan Nasional. Hal ini menandakan bahwa Distrik VIII Manado dinilai matang dalam pengalaman. Kami sebagai ecclesial team  baru sungguh merasa terharu atas kerja keras panitia yang penuh gairah dan semangat serta tanpa pamrih. Dalam perjalanan keringat dan linangan air mata  banyak tercurah. Terima kasih untuk segala dedikasi dan pengorbanan Anda sekalian. Harapan kami, agar kita tidak terlena dan puas dengan apa yang telah kita raih, tetapi menggunakan kesempatan ini sebagai momentum untuk berbenah diri, berefleksi kembali, menatap ke depan… jalannya masih jauh.. sejauh mana kita tetap memiliki satu komitmen yang tak akan pernah lekang oleh waktu yaitu Love One Another as I Have Loved You. Semoga perutusan ini memperbaharui Gereja dengan membantu Pasutri, Imam dan Biarawan-Biarawati menghayati relasi yang akrab dan bertanggung jawab serta semakin hidup dalam kegembiraan.

Ada lima jembatan dalam kehidupan ini. Jembatan terpanjang adalah pengharapan, terpendek adalah putus asa. Jembatan termurah   adalah iman, Jembatan paling mahal adalah pengorbanan dan jembatan terindah adalah Kasih. Dan dengan kasih ini kami menyambut anda sekalian delegasi peserta sidang Denas.

Kornas : Pasutri Endang Agung dan Romo Budi Hermanto Pr.,

Puji dan syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Kasih, karena atas rahmat dan anugerahNya lah maka Sidang Dewan Nasional ME Indonesia dapat diselenggarakan sesuai dengan rencana tanggal 10-14 Oktober 2012 di Manado sekaligus merayakan Lustrum ke-8 Distrik Manado. Kami kagum atas semangat yang sangat luar biasa dari komunitas ME Manado yang diwakili oleh Kordis Pastor Feighty Boseke Pr., dan pasutri Tetty-Yosh dan panitia Denas Pastor Chris Santie, MSC., dan pasutri Meike-Eddy yang menyambut dan mempersiapkan sidang Denas ini dengan penuh kebahagiaan dan suka cita.

Sesuai dengan tema Sidang Dewan Nasional ke-39 ini “Call to Holiness”, maka kami harapkan Distrik VIII Manado akan semakin menunjukkan citra dirinya menjadi semakin kudus di hadapan Allah dan semakin melayani sepenuh hati. Hal ini akan nampak dalam kebersamaan dan kerja sama diantara team dan komunitas, keterbukaan, saling mendengarkan dan melakukan pelayanan ini dengan tulus hati.

Kami bangga dan berterima kasih kepada Kordis, Panitia Sidang Denas dan terutama kepada seluruh komunitas ME Manado, juga para donatur dan semua pihak atas komitmen dan pengorbanan, baik waktu, tenaga, pikiran maupun dana, sehingga Sidang Denas ke-39 ini bisa terlaksana. Terima kasih pula kami haturkan kepada Mgr. Josef Theodorus Suwatan, MSC., atas doa, peneguhan dukungannya dalam seluruh proses penyelenggaraan Sidang Dean Nasional ME ke-39 ini. Semoga pelayanan kasih untuk Sidang Denas ini, semakin menumbuhkan suka cita, keakraban dan semangat baru bagi komunitas dan ME Distrik VIII Manado./ER.

is
Email this author | All posts by

Comments are closed.