Pancawindu Pernikahan Kami

By • Jun 12th, 2012 • Category: Bagaimana Perasaan Saya

Di usia senja, ternyata kami berdua masih bisa menggali kedalaman cinta

Oleh: Pasutri Steph – Kuni

Hal 16_Kuni_Steph tahun 2012

Pasutri Steph-Kuni

 

 Sebelum Kuni bertemu dengan Steph, Kuni ingin menjadi suster. Namun Tuhan menentukan lain, karena Kuni yang asli Flores dipertemukan dengan Steph, pria Jawa. Dengan berbagai macam perbedaan, ditambah lagi dengan adanya kesulitan ekonomi, maka sering menyulut pertengkaran. Berdua bersyukur pada Tuhan karena diperkenalkan dengan ME yang menyelamatkannya, hingga Pancawindu pernikahan mereka.

 

Aku, Steph, berasal dari Salatiga, Jawa Tengah, bertemu pertama kali dengan istriku, Kuni dari Maumere Flores pada tahun 1965, di Madiun.  Kami  menikah pada tanggal 21 Januari 1972,  di Gereja Hati Kudus, Ili, Keuskupan Maumere.

Berkat Pater Paul Klein SVD, kami ikut WeekEnd ME pada 13-15 Maret 1981, di Pacet Surabaya. Selanjutnya kami menjadi anggota Team WEME dan menjadi Koordinator ME Distrik VII Ende, yang  pertama.

Sejak aku anfal jantung, 29 April 2006, kehidupan selanjutnya aku anggap sebagai  “bonus” atas  kasih Allah. Memasuki tahun 2012, kami bertanya-tanya, “Mungkinkah merayakan pancawindu?”

Steph

Setelah mengalami anfal jantung, aku hanya dapat menyampaikan puji dan  syukur pada Allah, yang memberi  kesempatan untuk menikmati kebersamaan dengan Kuni, dan anak cucu, sahabat dan kenalan serta sesama di sekitar kehidupanku. Tidak lupa kudoakan dokter Asep Purnama, SpPD dan istrinya dr Candida, SpSy., yang setia mendampingi aku.

Dalam sikap optimistis, saya menulis di bawah fotoku yang tergantung di ruang kerja, “Ya Tuhan, biarkanlah aku hidup, bila hidupku bermanfaat, dan jemputlah aku, bila kematian lebih bermakna bagiku”.

 

Kuni

“Aku berdoa, kami bisa sampai ke hari pancawindu  pernikahan kami. Tuhan selalu baik pada kami. Dalam hati, aku menghitung hari-hari bulan Januari 2012. Saling mengingatkan untuk jaga kesehatan. Saya bersyukur pada Tuhan, relasi kami baik-baik saja. Harapan lain, jika Tuhan berkenan, biarlah Steph pergi lebih dahulu, karena dalam banyak hal Steph amat tergantung pada aku. Tapi bila Tuhan menghendaki aku lebih dulu pergi, belajarlah bagaimana kamu hidup tanpa aku dan aku juga akan belajar hidup tanpa kamu.”

Ibadat Syukur

“…. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya  apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan kepadamu…” (Yoh 15 : 16).

Sebagai puncak syukur, kami menyelenggarakan ibadat yang dipimpin oleh Pastor Fidelis Dua Pr, Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Maumere, dengan diiringi nyanyian yang dikoordinir oleh pengurus kelompok umat basis “Bintang Timur”.  Dalam homili Pastor Fidel, antara lain mengatakan :

“ …… Masa 40 tahun bukan masa yang pendek, namun bapak Steph dan mama Kuni telah mencapainya. Apa yang menjadi pegangan mereka? Sesungguhnya pegangan utama kasih yang setia dipadukan dengan iman dan harapan yang ditimba dari sabda Yesus sendiri : “… Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan kepadamu…” (Yoh 15 : 16).  Sabda ini menjadi pedoman penunjuk Allah ziarah perjalanan hidup dua sejoli merajut kasih membangun keluarga sebagai firdaus yang indah oleh bapak Steph dan mama Kuni, seperti yang tersirat dalam buku telah tersaji. Mereka mengimani bahwa Allah yang memilih kedua menjadi satu. Tujuan pemilihan Allah adalah untuk menghasilkan buah dalam taman firdaus rumah keluarga yang tetap berlimpah. …….

Selesai ibadat sabda, acara dilanjutkan dengan sharing-sharing dari saksi pernikahan kami,  anak-anak dan kami berdua.

Hal 17_Perjalanan Steph-Kuni menuju gereja paroki Hati Kudus Ili  Keuskupan Maumere, tanggal 21 Januari 1972 untuk pemberkatan nikah suci

Tanggal 21 Januari 1972-Perjalanan Steph-Kuni menuju Gereja Paroki Hati Kudus II, Keuskupan Maumere

Kuni

Sejak SMP, aku ingin jadi suster, rupanya Tuhan kurang berkenan dan tidak memilihku. Aku tidak minat untuk menikah, karena contoh-contoh keluarga di sekitarku yang penuh dengan pertengkaran  dan perkelahian. Makanya aku dikirim untuk bersekolah di Madiun untuk jadi katekis (seumur hidup). Ternyata di Jawa saya ketemu jodohku

Hidup perkawinan bersama Steph yang kubanggakan saat ini, awalnya merupakan hidup yang menjengkelkan. Jika harus menikah aku punya syarat calon suami, antara lain umur harus lebih tua, biar hanya satu hari. Ternyata saya jatuh cinta pada Steph yang usianya 5 tahun lebih muda. Ini pukulan berat bagi harga diriku. Makanya berulangkali saya menolaknya. Tetapi Tuhan menentukan aku berkeluarga.

Ternyata setelah saya hidup berkeluarga, awalnya bukan ‘surga’ yang kuperoleh. Gaji suamiku saat itu, tahun 1972 hanya Rp 4.800,- Dua minggu uang sudah habis. Saat kusampaikan Steph  ia bilang bahwa satu bulan itu 30 hari. Jika gajiku sudah kamu habiskan dalam 2 minggu, bagaimana berikutnya? Saya ambil uang dari mana? Begitulah seterusnya. Namun setelah melalui perjuangan yang panjang dan upaya yang tidak kenal lelah, pada usia pancawindu perkawinanku, aku mengalami banyak kegembiraan dan kebahagiaan. Selanjutnya aku bisa menarik beberapa kesimpulan :

  • Firdaus  itu tidak perlu harus dalam rumah yang mewah. Biar lantai tanah, dinding gedek, lampu teplok kami mengalami firdaus kehidupan dalam rumah kontrakan seharga Rp 18.000,- untuk tiga tahun (1972-1974).
  • Untuk memberi, tidak harus kaya. Asal mau dan ikhlas kita selalu dapat memberi, “dengan memberi mendapatkan  kegembiraan dan kebahagiaan”
  • Steph yang mulanya kutolak karena tidak memenuhi syarat, minimal soal usianya, kini aku bersyukur Tuhan menghadiahkan yang terbaik bagiku dan aku tidak mau kehilangan dia, kecuali Tuhan memutuskan kami.

 

Steph

“ Ketika aku ditolak Kuni, karena usiaku, aku sangat kecewa dan marah. Namun aku tidak mau larut dalam kesedihan. Aku berpikir panjang ke depan dan bertanya pada Tuhan, apa rencana-Nya bagi hidupku? Aku tetap yakin bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Persahabatan dengan Kuni tetap kujalani, aku berusaha tawarkan bantuan apa saja dan aku mengenalnya lebih dekat. Pada suatu hari tanpa kuduga, Kuni meng-iyakan untuk menikah denganku. Namun kami berdua sepakat untuk berpisah. Kuni kembali ke Flores dan aku tinggal di Malang. Hal ini untuk menilai kembali apa benar keputusan kami, rencana Tuhan. Hubungan kami dilanjutkan melalui surat-menyurat tiap dua minggu sekali.

Ketika aku dalam keadaan bingung untuk mengurus proses pernikahan selanjutnya, ternyata tangan-tangan Tuhan datang pada waktunya. Ketika Pastor Janssen CM, pendiri ALMA berkunjung ke Flores, aku titip cincin buat Kuni.

Kata Kuni kepada pastor, sebelum menerima cincin, minta  pastor  datang ke rumah orang tua nya di Ili. Tidak ada pilihan lain, pastor datang melamar, dan bapa menerima, karena menurut pendapatnya, suara imam adalah suara Tuhan. Begitulah akhirnya saya menikah dengan Kuni di gereja Hati Kudus paroki Ili Keuskupan Maumere, tanggal 21 Januari 1972. Setelah menikah kami kembali ke Malang.

Hal 18_Pemberkatan pastor paroki  setelah kami melakukan pembaharuan janji perkawinan

Pemberkatan Pastor Paroki stelah kami melakukan pembaharuan janji perkawinan

 

Cinta saja dalam mengarungi hidup berkeluarga ternyata tidak cukup. Ekonomi keluarga, perbedaan sifat dan sikap, latar belakang budaya ternyata menjadi “sumber” konflik di antara kami berdua. Pernah terlintas dalam pikiranku , “apakah aku tidak salah pilih?” sedangkan Kuni menulis surat pernyataan tidak bahagia dan minta dipulangkan ke Flores. Bila jalan buntu, kami menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sampai akhirnya ME mengajari kami berdua untuk berdialog. Berdialog tentang apa saja, termasuk hal-hal yang sulit kuungkapkan. “Terima kasih ME, telah menyelamatkan perkawinan kami”.

Aku tidak pernah menyesal nikah dengan Kuni pasanganku yang telah berdampingan selama 40 tahun. Kuni adalah pasangan dan sahabat yang terbaik yang diberikan Tuhan dalam perjalanan hidupku. Di usia senja, ternyata kami berdua masih bisa menggali kedalaman cinta, sehingga ziarah perjalanan hidup kami akan terasa lebih nyaman dan saling membahagiakan.

Tuhan terima kasih atas kasih-Mu yang melimpah buat kami berdua, anak-anak dan cucu, sehingga kami boleh mengalami pancawindu pernikahan kami.”/BI/KT/ER.

is
Email this author | All posts by

Comments are closed.