Sudut-sudut kasih, yang kurasa…

By • Jun 19th, 2010 • Category: Nilai-Nilai

Oleh : Widya (Putri Pasutri Hendra-Lelie, Distrik VI-Bandung)


R43_N10_F1-1

Keluarga Pasutri Hendra-Lelie

Semua orang pasti tahu sudut. Yang biasa nempel di bangun datar dan bangun ruang: sudut lancip, siku-siku dan sudut tumpul.  Ada yang membuat opini beragam bumbu, sudut pandang. Kadang- kadang membuat kita serasa di ujung tanduk alias tersudut.   Sudut kasih…,  lain lagi menunya.

Saya anak pertama dari tiga bersaudara, dengan ayah Hendra,  dan ibu Lelie. Lahir sebagai anak sulung, saya senang, kemudian disambung dengan perasaan kecewa, dan akhirnya disusul dengan kebanggaan hingga kini.  Saya senang, karena saya mendapat curahan perhatian dan kasih yang terbanyak dari orangtua sebelum adik-adik saya lahir. Berangsur tahun, awan kecewa mulai menyelimuti, karena saya merasa dibebani tanggung jawab selaku anak pertama, baik itu sebagai role model, atau yang selalu disalahkan kalau adik-adik saya nangis atau salah, sehingga mendapat “auman” dari ibunda tercinta (he…he…).

Setelah meluangkan waktu lebih lama dan saya menjadi sedikit lebih dewasa, mulai muncul rasa bangga menjadi anak pertama, apa lagi yang menjadi orangtua dan yang merawat, membimbing dan “menegur” saya adalah papa Hendra dan mama Lelie. Apapun yang mereka lakukan, yang mereka beri, apapun bentuk dan macamnya, semuanya adalah kasih mereka kepada saya.

Waktu saya masih kecil, setiap kali saya mendapat nilai jelek, salah ini itu, atau adik-adik nangis, saya yang kena marah biasanya sama Mama, dikarenakan Papa pulangnya malam melulu. Kadang-kadang sampai dua tiga hari, baru reda, belum kalau diungkit lagi. Biasanya saya melawan juga, nggak mau disalahin begitu saja, sehingga yang terjadi adalah bentrokan dahsyat yang mungkin baru reda kalau salah seorang minta maaf. Pokoknya sekali mama bilang “ini” hasilnya harus “ini” tidak bisa yang lain. Akibatnya saya jadi anak dengan sifat keras, pendiam, dan pembangkang, jadi suka cari masalah. Waktu itu papa dan mama mulai ikut ME.

Beranjak remaja, orangtua mulai sibuk, urusan kantor, rapat, pertemuan, kadang-kadang saya merasa “kok kalian sibuk terus sih, kapan main denganku lagi?”  Saya jadi agak tertutup, sampai-sampai teman pun saya jarang.  Selang beberapa waktu, saya Ikut homestay di Australia, usai SMP, selama beberapa minggu. Saya menginap di sebuah rumah milik warga sana, dan saya sempat berpikir tidak mau pulang. Lebih baik di sana (Australia) saja. Karena menurut saya waktu itu, di sana lebih nyaman, jauh dari tanggung jawab anak pertama, tidak didesak terus untuk mendapat nilai bagus, latihan dan les ini, itu, dan menghadapi kemarahan mama.

Selang beberapa minggu, saya pulang ke Indonesia. Sampai di bandara Jakarta, saya disambut mama dan papa yang langsung memeluk saya.  Yang saya rasakan…, senang dong! Yang saya alami dari kecil: “Wid! Latihan!” atau “Wid! Nilaimu jelek!”  sampai dikunci di kamar mandi, sehingga buku ulangan selalu saya sembunyikan, walau akhirnya ketemu juga.  Waktu  dipeluk, ada satu perasaan yang timbul yang awalnya saya tidak tahu, apa itu, tahu-tahu muncul saja. Maklum saya orangnya kurang peka, cuek lagi, perasaan itu tidak saya hiraukan, dan hari- hari berikut saya jalani seperti biasa. Baru saya sadari lama-lama, mama sedikit berubah. Jadi lebih sering senyum, dan mulai mengurangi marahnya, walau kadang meledak tanpa warning call, dan saya jadi kaget.

Waktu SMA kelas tiga, saya kembali mengikuti homestay di Amerika, kali ini selama satu tahun. Masa-masa itu merupakan masa yang menggembirakan bagi saya, sampai saya jarang telepon ke rumah dan membuat orangtua khawatir dan akhirnya mereka menjenguk saya tepat di hari ulang tahun saya. Terus terang, saya senang bukan kepalang. Lagi-lagi, perasaan seperti yang saya alami sehabis dari Australia, muncul lagi, tapi karena terlalu senang atas kunjungan yang cuma sehari itu,  lagi-lagi, saya tidak terlalu menghiraukannya. Apalagi tanpa sadar saya masih punya rasa benci yang mendalam terhadap mama, yang hilangnya ternyata susah sekali, walau mama sudah sedikit demi sedikit berubah. Saya seakan menjadi trauma.

Hal itu terbawa sampai saya kuliah di Malaysia dan hidup sendiri. Setelah berapa lama, perasaan kangen yang sebelumnya tidak pernah ada kala saya homestay, tiba-tiba muncul. Takut akan menghalangi akademis, perasaan itu saya berusaha lempar jauh-jauh, tapi selalu balik lagi. Puncaknya waktu saya kena tampar satu masalah di Malaysia. Mulanya saya tidak mau bilang, mungkin karena masih trauma dan benci secara tidak sadar, tetapi kemudian saya ambil handphone dan menelepon mama.

Selang beberapa hari, papa dan mama datang ke Malaysia, dan di luar dugaan mereka tidak marah, tidak sama sekali,  terutama mama. Saya merasa comfortable sekali saat itu,dan perasaan yang sama yang muncul setiap kali homestay, mencuat kembali, dan kali ini saya terima.  Perubahan yang begitu besar itu, yang menerima saya apa adanya setelah jatuh, saya meleleh, benci dan trauma perlahan menghilang.

Dampak langsung dari kasih yang mereka beri, dari sudut teguran, itu membuat saya menjadi pribadi yang tahu diri, menghargai orang lain, dan wawasan tentang baik dan buruk. Saya juga menjadi pribadi yang lumayan tegas terhadap adik-adik, tapi mengingat bahwa dulu saya pernah dan sering dimarahi, saya berusaha untuk sebisa mungkin tidak memarahi mereka. Apalagi mereka sifatnya sedikit banyak mirip dengan saya. Saya berusaha menjadi kakak yang ideal bagi adik-adik saya. Kalau saya mengingat kembali,  waktu saya dipeluk ketika jatuh, merasa kecewa berat, kesal dan salah jalan, saya berusaha untuk membagi itu kepada adik, teman-teman, dan orang yang membutuhkan. Juga mengembalikan rasa kasih itu kepada orangtua dengan menjadi pendengar dan (sekarang sedang belajar) menjadi penolong yang baik. Dari teguran, omelan, dan nasihat yang papa dan mama beri, saya juga mendapat gambaran tentang berbagai jalan yang benar, menerima seseorang apa adanya.

Walau saya ditegur, itu kasih. Saya dipeluk, itu juga kasih. Bahkan waktu kena marah saya sekarang juga merasa itu juga kasih. Masing-masing sudut kasih itu membentuk saya, baik secara langsung dan tidak langsung. Menjadi sebuah bidang yang solid dan kokoh, yang masih terus disempurnakan, dari waktu ke waktu. Dari sejak orangtua belum ikut ME, mulai ikut, dan setelah ikut ME, perubahan besar mereka

berdampak besar bagi saya. Serasa tidak ingin jauh dari mereka… /kt

Tagged as:

is
Email this author | All posts by

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.